<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Endemik East Bornensis</title>
	<atom:link href="http://riffbul.blog.friendster.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://riffbul.blog.friendster.com</link>
	<description>Pejuang Pelestari Alam
Demi Satu Bumi Ku Tercinta</description>
	<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 17:34:48 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Orchidaceae</title>
		<link>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/07/orchidaceae/</link>
		<comments>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/07/orchidaceae/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 08:20:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffbul</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffbul.blog.friendster.com/2008/07/orchidaceae/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>U M U M</strong></p>
<p>Anggrek atau Orchidaceae termasuk dalam keluarga tanaman bunga-bungaan.<br />
Anggrek terdapat pada hutan yang gelap, di lereng yang terbuka, pada batu<br />
karang yang terjal, pada batu-batuan didaerah pantai dengan garis pasang surut<br />
tinggi. Bahkan di tepi gurun pasir pun anggrek dapat ditemukan. Tumbuh dari<br />
kutub utara sampai daerah katulistiwa dan selatan pada semua benua kecuali<br />
Antartika. <br />
Anggrek yang banyak digemari adalah anggrek epifit dari daerah tropis. </p>
<p>Anggrek mempunyai lebih banyak jenis (species) nya daripada keluarga tanaman<br />
bunga-bungaan lainnya. </p>
<p>Para</p>
<p> ahli<br />
tumbuh-tumbuhan berkeyakinan anggrek mempunyai lebih dari 25.000 species yang<br />
tersebar di seluruh dunia. Tetapi karena kerusakan hutan kita kehilangan<br />
species yang belum dikenali dan tidak tahu dengan pasti berapa jumlahnya. </p>
</p>
<p>Indonesia</p>
<p>
terkenal di seluruh dunia dengan kekayaan anggreknya yang mempunyai lebih dari<br />
4000 species anggrek yang tersebar di hampir semua pulau. </p>
<p>Kalimantan</p>
<p>,<br />
Papua, Sumatera, Jawa termasuk pulau-pulau yang terkenal didunia karena<br />
kekayaan anggreknya. <br />
Genus yang banyak tumbuh meliputi : Vanda, Phalaenopsis, Paphiopedilum,<br />
Dendrobium, Coelogyne, Cymbidium, Bulbophyllum dll. </p>
</p>
<p>Anggrek yang terkenal dari Indonesia adalah &quot;anggrek bulan&quot;<br />
(Phalaenopsis amabilis) yang diangkat sebagai &quot;Bunga Nasional&quot; dan<br />
dijuluki &quot;puspa pesona&quot;, dan &quot;anggrek kantung&quot;<br />
(Paphiopedilum javanicum). </p>
<p>
<strong>KARAKTERISTIK</strong> </p>
<p>Perbedaan tanaman anggrek dengan tanaman bunga-bungan lainnya adalah pada<br />
bentuk bunganya.<br />
Pada bunga anggrek umumnya : </p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">mempunyai tiga sepal (daun<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; kelopak bunga). Salah satunya yang terletak pada bagian belakang<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (punggung) yang menghadap keatas dinamakan sepal dorsal. </li>
<li class="MsoNormal">mempunyai tiga petal (daun<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; mahkota bunga) yang letaknya selang seling dengan daun kelopak bunga.<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Salah satu dari petal yang terletak dibawah berbentuk seperti lidah yang<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; disebut labellum (bibir bunga), membuat bunga simetris antara kiri dan<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; kanan. </li>
<li class="MsoNormal">putik dan benang sari<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (bagian jantan dan betina) yang bergabung bersama pada bagian yang disebut<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; column. </li>
<li class="MsoNormal">tepung sari yang biasanya<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; berkumpul bersama pada bagian yang disebut pollinia. </li>
<li class="MsoNormal">buahnya mempunyai biji yang<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; sangat kecil dan banyak. </li>
<li class="MsoNormal">tangkai bunga dapat<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; berkelak-kelok saat pertumbuhannya, tergantung arah sumber cahaya. </li>
</ul>
<p align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center"><img width="225" height="225" src="/DOCUME~1/ACER/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.jpg" />&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;<img width="188" height="188" src="/DOCUME~1/ACER/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.jpg" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JENIS ANGGREK</strong></p>
<p>Berdasarkan pertumbuhannya secara umum anggrek dibagi menjadi 2 jenis : </p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Anggrek Simpodial :<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Biasanya pola tumbuhnya horizontal seperti tumbuhan merambat. Batang<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; tumbuhnya disebut rhizome. Rhizome terbaring horizontal pada permukaan<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; tanah dan akar-akarnya tumbuh pada sekitar panjang rhizome dengan arah<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; menurun dan membuat batang vertikal keatas yang disebut umbi semu<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (pseudobulb).
<p>Ada</p>
<p>&nbsp; &nbsp;&nbsp; yang pseudobulb nya memanjang keatas seperti batang (cane), dan ada pula<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; yang pendek dan bulat atau pipih. <br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Salah satu fungsi dari pseudobulb adalah sebagai tempat penyimpanan air<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; dan sari makanan. Pseudobulb yang berkerut adalah tanda tanaman tersebut<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; mengalami masalah dalam penyerapan air. <br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Setiap pseudobulb mempunyai satu sampai beberapa daun.<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Tunas baru muncul dari dasar pseudobulb yang sudah tua dan tempat titik<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; tumbuhnya disebut &quot;eye&quot; (mata). <br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Pada jenis pseudobulb yang pendek dan bulat, ada yang dibungkus oleh<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; pelepah daun (sheath) dimana dari dasar pseudobulb tersebut bunga akan<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; muncul, contoh : coelogyne, Oncidium. <br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Pada pseudobulb yang berbentuk batang (cane), tangkai bunga akan muncul<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; dari ujung batangnya, contoh: dendrobium. </li>
<li class="MsoNormal">Anggrek Monopodial :<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Anggrek yang tumbuh keatas dari satu batang (stem). Daunnya akan bertambah<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; terus dari ujung batang selama hidupnya. Jenis ini tidak mempunyai rhizome<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; dan pseudobulb, dan biasanya tumbuh akar udara (aerial root) dari<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; sepanjang batangnya.<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Tangkai bunga (spike/inflorescence) tumbuh dari sisi batang dan dimulai<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; dari sebelah bawah (bukan dari ujungnya), berbeda dengan sympodial<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (dendrobium) dimana tangkai bunga tumbuh dari ujung batang.<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Jika ujung batangnya rusak karena busuk (contoh: jenis phalaenopsis) atau<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; dipotong/distek (contoh: jenis vanda), maka akan muncul batang baru dari<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; sisi batang lama dan daun akan tumbuh dari batang baru tersebut. </li>
</ul>
<p>
Berdasarkan tempat tumbuhnya, anggrek dibagi menjadi beberapa jenis : </p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Epiphyte:<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Angrek yang tumbuh menumpang pada batang tanaman lainnya tetapi tidak<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; parasit (tidak mengambil sari makanan dari tanaman tersebut). Dengan demikian<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; anggrek akan memperoleh posisi yang lebih baik untuk mendapatkan cahaya<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; yang lebih. Akarnya melekat pada dahan pohon dan mendapatkan air hanya<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; dari hujan dan kabut. </li>
<li class="MsoNormal">Lithophyte:<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Anggrek yang tumbuh pada batu-batuan. Mereka menggunakan batu sebagai pegangannya.<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; </li>
<li class="MsoNormal">Saprophyte:<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Anggrek yang tumbuh pada humus dan daun-daun kering. </li>
<li class="MsoNormal">Terrestrial:<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Anggrek yang tumbuh pada
<p>padang</p>
<p>&nbsp; &nbsp;&nbsp; rumput, tanah humus dihutan. </li>
</ul>
<p>
Berdasarkan <a href="http://www.anggrek.info/photo/temp.jpg">kisaran suhu udara</a><br />
yang sesuai, anggrek dibagi dalam 3 jenis : </p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Anggrek suhu dingin<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (gunung, ketinggian 2000-4000m) : tumbuh baik pada suhu 15-21°C pada siang<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; hari dan 10-13°C pada malam hari.<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Contoh : Cymbidium, Masdevallia, Miltonia, Odontoglossum, Oncidium,<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Paphiopedilum </li>
<li class="MsoNormal">Anggrek suhu sedang<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (dataran tinggi, 750-2000m) : tumbuh baik pada suhu 21-32°C pada siang<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; hari dan 13-18°C pada malam hari.<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Contoh : Brassavola, Cattleya, Dendrobium, Epidendrum, Laelia,<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Paphiopedilum (molted leaves) </li>
<li class="MsoNormal">Anggrek suhu panas (dataran<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; rendah, 0-750m) : tumbuh baik pada suhu 26-35°C pada siang hari dan<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; 18-24°C pada malam hari.<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Contoh : Phalaenopsis, Vanda, beberapa jenis Dendrobium. </li>
</ul>
<p>
<strong>NAMA ANGGREK</strong></p>
<p>Seperti keluarga tanaman lainnya, secara umum anggrek dibagi dalam kelompok<br />
besar yang disebut genus (genera) dan dibagi lagi menjadi sub-genus yang<br />
mengelompokkan anggota genus tsb (species) yang mempunyai karakteristik sama.<br />
Dari sebuah species mungkin ada yang mempunyai beberapa varietas, misal :<br />
dendrobium anosmum var. superbum, dendrobium anosmum var. huttonii, dll. </p>
<p>Seperti lazimnya semua tanaman, anggrek pun mempunyai nama. Baik itu nama<br />
berdasarkan ilmu pengetahuan yang menggunakan nama latin maupun nama yang<br />
diberikan oleh penduduk dimana anggrek tsb tumbuh (nama lokal/populernya).</p>
<p>Untuk keseragaman secara ilmiah, nama tanaman menggunakan sistim penamaan<br />
binomial (nama ganda). Sehingga setiap anggrek mempunyai nama awal (first name)<br />
dan nama akhir (last name) seperti nama kebanyakan orang. </p>
<p>Kata pertama menunjukkan genusnya (atau intergenerik jika anggrek tsb hasil<br />
persilangan antar genus). </p>
<p>Kata kedua adalah nama speciesnya (atau nama yang diberikan oleh<br />
penyilangnya untuk anggrek silangan). </p>
<p>Agar nama anggrek hasil silangan dapat diakui oleh seluruh dunia, maka<br />
anggrek tersebut harus didaftarkan pada <a href="http://www.rhs.org.uk/plants/registration_orchids.asp" target="all">the<br />
International Orchid Registrar</a> yang saat ini dikelola oleh <a href="http://www.rhs.org.uk/" target="all">The Royal Horticultural Society</a>. </p>
<p><strong>Keterangan :</strong> Persilangan intergenerik adalah persilangan antar genus<br />
dalam satu keluarga, misalnya : </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Symbol">·</span> Doritis dengan Phalaenopsis. </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Symbol">·</span> Brassavola dengan Cattleya dan Laelia. </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Symbol">·</span> Brassia dengan Miltonia dan Oncidium, dll. </p>
<p>Untuk keseragaman dalam cara penulisannya maka huruf pertama dari kata<br />
pertama (nama genus) pada anggrek species menggunakan huruf besar dan kata<br />
keduanya (nama speciesnya) menggunakan huruf kecil semua. Pada anggrek species<br />
semua kata ditulis dengan huruf miring (italic). </p>
<p>Untuk anggrek hibrida (silangan), huruf pertama dari kata pertama (nama<br />
genus atau intergenerik) menggunakan huruf besar dan huruf pertama dari kata<br />
keduanya juga menggunakan huruf besar. Untuk anggrek hibrida kata pertama<br />
ditulis dengan huruf miring(italic), sedang kata kedua dan seterusnya dengan<br />
huruf tegak (normal). </p>
<p><strong>Contoh nama anggrek species :</strong> </p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><em>Coelogyne pandurata</em><br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (nama lokalnya : anggrek hitam). </li>
<li class="MsoNormal"><em>Dendrobium crumenatum</em><br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (anggrek merpati). </li>
<li class="MsoNormal"><em>Dendrobium secundum</em><br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (anggrek sikat). </li>
<li class="MsoNormal"><em>Grammatophylum speciosa</em><br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (anggrek tebu). </li>
<li class="MsoNormal"><em>Phalaenopsis amabilis</em><br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (anggrek bulan). </li>
<li class="MsoNormal"><em>Paphiopedilum javanicum</em>.<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; </li>
</ul>
<p><strong>Contoh nama anggrek hibrida :</strong> </p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><em>Brassavola</em> Little<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Stars. </li>
<li class="MsoNormal"><em>Dendrobium</em> Blue Sky.<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; </li>
<li class="MsoNormal"><em>Blc.</em> Alma Kee<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (Brassolaeliocattleya : Brassavola, Laelia dan Cattleya).</li>
<li class="MsoNormal"><em>Epc.</em> Middleburg<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; (Epicattleya : Epidendrum dan Cattleya). </li>
</ul>
<p>Agar penulisannya menjadi lebih singkat, kadang-kadang nama genus atau nama<br />
intergeneriknya disingkat.<br />
Dibawah ini ada beberapa singkatan nama genus dan intergenerik yang biasa<br />
digunakan. </p>
<table cellpadding="0" border="0" class="MsoNormalTable">
<tbody>
<tr>
&nbsp;
<td style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Arach.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td width="10" style="padding: 0.75pt;width: 7.5pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Arachnis</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Aranda</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Aranda (Intergenerik : Arachnis x Vanda)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Arnth.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Aranthera (Arachnis x Renanthera)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Ascda.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Ascocenda (Ascocentrum x Vanda)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">B.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Brassavola</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Colm.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Colmanara (Miltonia x Odontoglossum x Oncidium)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Ctna.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Cattleytonia (Broughtonia x Cattleya)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Bc.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Brassocattleya (Brassavola x Cattleya)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Bl.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Brassolaelia (Brassavola x Laelia)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Blc.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Brassolaeliocattleya (Brassavola x Laelia x Cattleya)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Bulb.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Bulbophyllum</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">C. atau Catt.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Cattleya</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Cym.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Cymbidium</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">D. atau Den.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Dendrobium</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Dor.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Doritis</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Dtps.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Doritaenopsis (Doritis x Phalaenopsis)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Epc. atau Epic.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Epicattleya (Epidendrum x Cattleya)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Gram.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Grammatophyllum</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Hwra.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Howeara (Leochilus x Oncidium x Rodriguezia)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Kgw.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Kagawara (Ascocentrum x Renanthera x Vanda)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">L.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Laelia</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Lc.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Laeliocattleya (Laelia x Cattleya)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Milt.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Miltonia</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Mttsa.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Miltassia (Miltonia x Brassia)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Mkra.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Mokara (Arachnis x Ascocentrum x Vanda)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">O. atau Onc.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Oncidium</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Paph.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Paphiopedilum</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Phal.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Phalaenopsis</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Pot.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Potinara (Brassavola x Cattleya x Laelia x Sophronitis)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Ren.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Renanthera</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Soph.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Sophronitis</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Sl.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Sophrolaelia (Sophronitis x Laelia)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Slc.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Sophrolaeliocattleya (Sophronitis x Laelia x Cattleya)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Spa.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Spathoglottis</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">V.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Vanda</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Vdnps.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Vandaenopsis (Vanda x Phalaenopsis)</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Vdps.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Vandopsis</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
<tr>
&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Z.</p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">: </p>
<p>&nbsp; </td>
<p>&nbsp;
<td valign="top" style="padding: 0.75pt">
&nbsp;
<p class="MsoNormal">Zygopetalum</p>
<p>&nbsp; </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>
<strong>PEMBIAKAN ANGGREK</strong></p>
<p>Anggrek dapat diperbanyak dengan cara :</p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Pembiakan generatif :<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Perbanyakan dengan biji buah yang telah masak.<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Masa masak buah anggrek sangat tergantung dari jenis anggreknya, dan iklim<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; juga mempengaruhi kematangan buahnya.<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Pembiakan generatif ini memerlukan perlakuan yang khusus diantaranya biji<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; harus steril dari
<p>hama</p>
<p>&nbsp; &nbsp;&nbsp; dan penyakit. </li>
<li class="MsoNormal">Pembiakan vegetatif :<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; Pembiakan dengan mengambil bagian tanaman induknya seperti :
<ul type="circle">
<li class="MsoNormal">Stek untuk jenis<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;monopodial. </li>
<li class="MsoNormal">Memecah rumpun untuk<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;jenis simpodial. </li>
<li class="MsoNormal">Keiki, yaitu anak<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;tanaman yang tumbuh dari batang atas (dendrobium), atau tangkai bunga<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;(phalaenopsis). </li>
<li class="MsoNormal">Kultur jaringan,<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;yaitu mengambil sebagian jaringan tanaman untuk diperbanyak dengan<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;melalui proses di laboratorium. Dengan cara ini bisa dihasilkan tanaman<br />
&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;bebas virus meskipun tanaman induknya terjangkit. </li>
</ul>
</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/07/orchidaceae/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Selamatkan Bumi, Hanya Celoteh Belaka</title>
		<link>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/04/selamatkan-bumi-hanya-celoteh-belaka/</link>
		<comments>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/04/selamatkan-bumi-hanya-celoteh-belaka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 11:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffbul</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[jerit rimba raya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffbul.blog.friendster.com/2008/04/selamatkan-bumi-hanya-celoteh-belaka/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
April 22, 2008</p>
<p>
Hari ini, 38 tahun lalu, senator dari negara bagian Wisconsin, Gaylord<br />
Nelson, bersama jutaan orang dari semua negara bagian Amerika Serikat<br />
melakukan demo untuk usaha pelestarian udara, air bersih, dan alam.</p>
<p>
Tidak kurang dari 1.500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah ikut ambil<br />
bagian dalam aksi yang hingga kini diperingati sebagai Hari Bumi.</p>
<p>
Delapan tahun sebelumnya, tahun 1962, dari Springdale, Pennsylvania,<br />
Rachel Carson menyentakkan warga dunia dengan menerbitkan Silent<br />
Spring. Dan selanjutnya, hingga hari ini warga dunia terus berceloteh<br />
untuk menyelamatkan Bumi.</p>
<p>
Perjalanan dimulai tahun 1962, saat Carson mengisahkan bagaimana alam<br />
pada musim semi yang semula cerah ceria penuh suara burung berkicau dan<br />
warna-warna bunga yang sedang mekar tiba-tiba sunyi karena semua itu<br />
hilang seketika. Kesadaran baru yang dibawa Silent Spring membuka mata<br />
tidak hanya bagi warga Amerika Serikat, tetapi juga warga dunia, yang<br />
ditandai usulan Swedia untuk menyelenggarakan konferensi tingkat dunia.<br />
Usulan itu disetujui dan akhirnya diselenggarakan konferensi tingkat<br />
tinggi di Stockholm tahun 1972.</p>
<p>
Penyelamatan lingkungan</p>
<p>
Sejak konferensi itu, badan-badan dunia baru dibentuk untuk tujuan<br />
penyelamatan lingkungan, salah satunya adalah Komisi Brundtland. Salah<br />
satu hasilnya adalah laporan berjudul Our Common Future. Dalam laporan<br />
itu, istilah pembangunan berkelanjutan diperkenalkan dan didefinisikan.<br />
Selain laporan itu, Komisi Brundtland mengusulkan untuk melaksanakan<br />
konferensi tingkat dunia untuk membicarakan berbagai lingkungan global,<br />
yang kemudian diselenggarakan di Rio de Janeiro, 1992.</p>
<p>
Konferensi di Rio adalah rangkaian kompromi yang sulit, begitu menurut<br />
Boutros Boutros- Ghali, Sekretaris Jenderal PBB saat itu. Pertemuan itu<br />
menghasilkan berbagai kesepakatan, salah satunya adalah Forestry<br />
Principles (prinsip-prinsip tentang hutan). Forestry Principles adalah<br />
kesepakatan khusus terkait kehutanan, yang menunjukkan bahwa hutan<br />
memiliki posisi penting bagi masa depan umat manusia.</p>
<p>
Perjalanan penting selanjutnya terjadi akhir 2007 di Bali. Pertemuan<br />
selama dua minggu itu, menurut banyak pihak, adalah pertemuan untuk<br />
melunakkan hati Amerika Serikat. Hasil terbesar dari Bali adalah Bali<br />
Road Map. Selain itu, yang kini sedang menjadi isu hangat adalah Reduce<br />
Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD), sebuah<br />
mekanisme pembiayaan dari negara industri untuk negara pemilik hutan.<br />
REDD merupakan salah satu bentuk perdagangan karbon.</p>
<p>
Meski demikian, jika merujuk pada berbagai kesepakatan sebelumnya, Bali<br />
Road Map dan REDD menurut beberapa pihak adalah sebuah kemunduran.<br />
Pendapat lain menyatakan, mekanisme REDD lebih baik dari Clean<br />
Development Mechanism (CDM), setidaknya untuk Indonesia. Namun, apakah<br />
hal itu juga lebih baik dalam konteks penyelamatan Bumi?</p>
<p>
Pro-kontra REDD</p>
<p>
REDD sebenarnya bukan hal baru yang tiba-tiba muncul di Bali. Beberapa<br />
tahun sebelumnya di Montreal, pada saat COP 11, salah satu keputusannya<br />
adalah tentang perlunya pembahasan insentif bagi Reduced Emission from<br />
Deforestation in Developing Country (atau disingkat RED), degradasi<br />
hutan belum dimasukkan. RED merupakan inisiatif Papua Niugini dan Kosta<br />
Rika yang mengusulkan perlu adanya insentif bagi negara yang melakukan<br />
konservasi, dan Brasil mengusulkan perlunya kompensasi bagi negara yang<br />
mampu mencegah deforestasi. Di Bali, Indonesia mengharapkan RED menjadi<br />
REDD, di mana degradasi hutan juga dimasukkan.</p>
<p>
Sejak ide itu keluar, pro dan kontra terus mewarnai media massa, bahkan<br />
hingga mekanisme REDD sedang akan diujicobakan, perdebatan terus<br />
terjadi. Di kampus Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, REDD<br />
memicu perseteruan antaralumni dan beberapa dosen.</p>
<p>
Pemerintah mengatakan, REDD memberi kesempatan kepada negara untuk<br />
mendapatkan keuntungan finansial dari potensi hutan tanpa menebang<br />
hutan. Lembaga konservasi internasional menyambut peluang itu sebagai<br />
tambahan dana untuk kegiatan konservasi di tiap-tiap wilayah kerja<br />
mereka. Beberapa pihak lain melihat ini sebagai sebuah bentuk baru<br />
penguasaan pemilik kapital untuk menguasai dan mengawasi hutan di<br />
negara berkembang.</p>
<p>
Mekanisme REDD yang ditawarkan Indonesia dalam persidangan konferensi<br />
PBB mengenai perubahan iklim di Bali berpotensi membangkrutkan bangsa<br />
jika diterapkan di tengah lemahnya penegakan hukum dan kejahatan<br />
lingkungan (Kompas, 4/12/2007).</p>
<p>
Beberapa pihak yang pesimistis dengan mekanisme REDD menyatakan<br />
kekhawatirannya, REDD hanya akan memberikan manfaat kepada lembaga<br />
keuangan yang mengelola dana itu dan pihak ketiga, yang dalam hal ini<br />
bisa lembaga konservasi, konsultan, atau lembaga penelitian. Sementara<br />
masyarakat sekitar hutan belum tentu mendapatkan manfaat langsung.</p>
<p>
Selain itu, kita harus berhati-hati agar jangan sampai mekanisme REDD<br />
menjadi beban utang baru, seperti kekhawatiran yang disampaikan Emmy<br />
Hafid, Direktur Eksekutif Green Peace Asia Tenggara. &quot;Hati-hati dengan<br />
REDD karena jika kita ternyata mampu melestarikan hutan sebagai<br />
penangkap karbon, uang yang sudah didapat akan langsung dikonversi<br />
menjadi utang.&quot;</p>
<p>
Gagasan untuk mencegah kerusakan hutan atau deforestasi dengan memberi<br />
kredit bagi pihak-pihak yang bisa melestarikan hutan dikhawatirkan<br />
menjadi semacam ijon bagi pelestari hutan (Kompas, 14/12/2007).</p>
<p>
Pembaruan komitmen</p>
<p>
Mengingat perjalanan yang begitu panjang, dan agar semua itu tidak<br />
hanya menjadi celoteh belaka, perayaan hari ini seharusnya bukan hanya<br />
melestarikan tradisi, tetapi pembaruan komitmen. Seperti pernah<br />
diucapkan Presiden Palau Tommy E Remengesau, &quot;.Jika ingin merespons<br />
perubahan iklim, gaya hidup harus berubah.&quot;</p>
<p>
Siapkah kita untuk mengubah gaya hidup. Siapkah kita untuk memaknai a<br />
call for climate dalam kehidupan sehari-hari? Siapkah kita untuk<br />
mengurangi pemakaian tisu? Siapkah kita untuk mengurangi pemakaian AC?<br />
Siapkah kita mematikan lampu ketika penerangan tak diperlukan? Siapkah<br />
kita mematikan televisi saat tak seorang pun menonton? Siapkah kita<br />
untuk lebih mengonsumsi buah lokal daripada buah impor? Siapkah kita<br />
untuk semua itu?</p>
<p>
Jika kita belum siap, benar adanya bahwa sejak beberapa tahun lalu kita hanya berceloteh untuk menyelamatkan Bumi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/04/selamatkan-bumi-hanya-celoteh-belaka/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ABSENSI PENGEBIRIAN AKTIVITAS MAHASISWA. Benarkah itu??</title>
		<link>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/absensi-pengebirian-aktivitas-mahasiswa-benarkah-itu/</link>
		<comments>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/absensi-pengebirian-aktivitas-mahasiswa-benarkah-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 17:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffbul</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/absensi-pengebirian-aktivitas-mahasiswa-benarkah-itu/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span></span><span lang="FI">“Eh, titip absen untuk mata kuliah xxx ya?!”. Kata-kata seperti itu tentu<br />
sudah tidak asing di telinga kita. Jujur saja, saya pribadi kurang setuju<br />
dengan yang namanya absen. Mengapa?? Karena menurut saya absensi itu dibuat<br />
untuk mengekang mahasiswa agar rajin mengikuti perkuliahan, padahal mahasiswa<br />
itukan kuliah bukan hanya untuk mencari ilmu tetapi juga sekaligus mencari<br />
pengalaman di dalam organisasi. Peraturan 80% hadir sebagai syarat untuk mengikuti<br />
UAS dilatarbelakangi asumsi bahwa mereka yang memenuhinya akan mengerti mata<br />
kuliah yang akan diujiakan. Benarkah??</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size: 1.2em"><span lang="FI">Saya menilai,<br />
aturan 80% itu hanya sebuah alat pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengetahui<br />
dan mencoba yang namanya KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme). </span></span><span lang="SV"><span style="font-size: 1.2em">Secara sadar atau tidak sadar, tradisi<br />
titip absen adalah sebuah korupsi. Dimanakah seorang mahasiswa yang kata<br />
masyarakat “seorang mahasiswa itu idealis”?! Lebih baik jangan dicari, karena<br />
sekarang sudah jarang sekali mahasiswa yang benar-benar idealis, lha wong<br />
buktinya mereka masih membudidayakan tradisi titip absen ko’&#8230;&#8230;&#8230;</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/absensi-pengebirian-aktivitas-mahasiswa-benarkah-itu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kampus ku</title>
		<link>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/kampus-ku/</link>
		<comments>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/kampus-ku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 17:44:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffbul</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/kampus-ku/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dimana Pohon kampusku yang rindang<br />Dimana Suara burung yang bercicit gembira<br />Dimana keteduhan yang menenangkan<br />Dimana suara gesekan daun diterpa angin<br />Dimana bisikan daun saat dia malu<br />
<br />Dimana harus kucari hijau kampusku<br />
<br />Kampus kehutanan-ku<br />
<br />Kampus forester-ku<br />
<br />Kampus kebanggaan-ku<br />
<br />Dimana harus ku simpan luka kecewa<br />
<br />Saat kampusku tak rindang lagi…<br />
<br />Entah sampai kapan ku memendam jeritan hati<br />Melihat kampus hijau-ku smakin gundul…<br />
<br />Mencari arti dari kampus “kehutanan”ku…</p>
<p>Dengan ku berdiam diri<br />
apakah ku akan dapat jawaban…?<br />
<br />Dengan ku ikuti rangkaian perkuliahan<br />
Apakah rasa dapat terpuaskan…?</p>
<p>Hhh, malah mengundang pertanyaan baru<br />
Untukku…<br />
Walaupun begitu<br />
Aku bangga dengan kampusku<br />
Karena ada teman-temanku<br />
Kakak tingkatku<br />
Dosen-dosenku<br />
Mapflofaku<br />
Sylvaku<br />
Karena mereka penyemangatku dan keluarga<br />
Dalam kampusku<br />Segala damba yang membahana demi satu bumi ku tercinta<br />lestari&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;!!!!!!!!!!!!!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/kampus-ku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Sangat Beruntung</title>
		<link>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/aku-sangat-beruntung/</link>
		<comments>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/aku-sangat-beruntung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 17:37:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffbul</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/aku-sangat-beruntung/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Aku sangat<br />
beruntung. Masuk MAPFLOFA bukanlah hal yang mudah. <span lang="SV">Banyak sekali tantangan demi tantangan yang harus<br />
dilalui. Tapi semua ternyata terlalu murah dibandingkan apa yang kudapat di<br />
MAPFLOFA.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="SV">Aku akan berkata dengan jujur pada kalian. Bukan<br />
karena aku adalah seseorang yang suka memuji organisasi sendiri hingga begitu<br />
narsis sampai terlalu menyanjung. Aku bahkan bukan orang yang pandai memuji.<br />
Aku hanya akan jujur pada kalian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="SV">Bahwa aku mendapat banyak ilmu di sini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="SV">Jelas, MAPFLOFA bukan satu-satunya organisasi yang<br />
membantu mendewasakan pemikiranku. MAPFLOFA hanya salah satu organisasi yang<br />
tak rapi secara administrasi, markasnya terletak di gubuk fahutan dengan<br />
teman-teman yang kebanyakan bermuka sangar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="SV">Pertama kali masuk MAPFLOFA aku juga takut dengan<br />
wajah-wajah tak bersahabat itu. Tapi apakah benar pemilik wajah2 sangar itu<br />
galak bin jahat bin serem? Setahun menjalani proses untuk menjadi anggota<br />
MAPFLOFA, aku masih juga merasa seram, <em>even</em><br />
kakak2 itu sudah sering tersenyum dan menyapaku di jalan. Tetap saja kata<br />
”Angker” masih melekat di wajah mereka. Setahun, dua tahun aku berada di<br />
MAPFLOFA, kata seram itu juga terkadang masih sering bercokol di otakku. Tanpa<br />
sadar aku juga jadi ikut memiliki tampang ”Seram”. Entah kenapa ketika menjadi<br />
MAPFLOfer, aku merasa harus berwibawa, bertampang tegas agar terlihat<br />
benar-benar MAPFLOFA. Tapi yang sering keluar justru wajah seram.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="SV">Reuni Akbar sekaligus perayaan hari jadi mapflofa yang ke-23 yang kami selenggarakan nampaknya<br />
benar-benar ber-efek terhadap perasaanku. Walau aku jarang berkomunikasi dengan<br />
alumni, karena selain gugup, aku juga sibuk dengan persiapan2 lainya (namanya<br />
juga panitia), aku merasa ”benang merah” yang mengikat kami itu benar-benar<br />
hadir. Mereka bertampang seram, jarang berkomunikasi denganku, tapi dengan<br />
ke-mapflofa-anku mereka tersenyum. dan aku tau mereka memang baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="SV">Beberapa bulan ini, kami semua sibuk dalam upaya<br />
mempersiapkan reuni ini. Berbagai masalah menimpa kami. Tapi syukurlah semua panitia yang<br />
bekerja tak kehilangan semangat dan tetap <em>cooling-down</em><br />
walau masalah datang bertubi-tubi, pekerjaan bertumpuk dan tekanan semakin kuat<br />
menghantam kami. Di sini lah aku merasa MAPFLOFA memang sebuah keluarga dengan<br />
orang2 yang mempunyai sifat berbeda2. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="FI">Aku sering sekali melakukan kesalahan selama<br />
kepanitiaan juga selama aku tingal di mabes tercinta. </span><span lang="SV">Aku lebih lambat<br />
daripada yang lain ketika bekerja. Aku sering tertidur duluan sebelum yang<br />
lain. Aku sering bersuara keras pada teman-teman atau kakak2ku yang lembut. Aku juga sering melewatkan beberapa pertemuan. Tapi mereka tetap<br />
tersenyum. nampak jelas mereka benar-benar mengerti aku. </span><span lang="PT-BR">Tapi aku merasa lebih dimengerti di<br />
sini daripada di rumah sendiri. </span><span lang="SV">Tak ada yang berkomentar/mengutuk setiap hari atas kesalahan2ku atau<br />
kekuranganku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="PT-BR">Kali ini kulihat mereka bekerja dan<br />
terus mempertahankan semangat demi MAPFLOFA. Reuni akbar kali ini benar-benar<br />
menguras waktu, tenaga dan pemikiran. Tetapi semua puas dan hampir selalu tersenyum.<br />
Karena setiap baru down, baleho jadi. Bagus banget&#8230;. dalam hatiku, dan aku<br />
kembali semangat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="FI">Lalu, bagaimana aku bisa tidak menjadi semakin<br />
jatuh hati kepada MAPFLOFA? sampai sekarang, walau sering bersedih karena<br />
ketidakpuasan. aku tetap bersyukur diletakkan di sini oleh Yang Maha Kuasa. </span><span lang="SV">Sekarang aku mengerti, Bukan karena kondisi<br />
MAPFLOFA aku menjadi sedih. </span><span lang="FI">Tapi<br />
lebih karena aku adalah manusia biasa yang selalu tidak puas dengan apa yang<br />
ada. Ketika kulihat perjuangan saudara-saudaraku untuk mempersiapkan reuni<br />
akbar ini, aku menjadi paham, semua memang saling berkaitan dan tak bisa dipisahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;text-align: justify"><span lang="FI">Oia, btw aku terinspirasi<br />
dari seorang kakak yang sudah jadi alumni. Dia sedang mabuk( <em>ga sadar </em>) waktu bicara denganku. Jadi<br />
dia banyak bicara. </span><span lang="SV">Tapi,<br />
lucunya tak ada rasa takut padanya, tidak seperti saat dia tidak minum. Kata-katanya<br />
lebih bijak dan sabar menasehati dan memberi ilmunya kepadaku pada saat mabuk. </span><span lang="FI">Aneh? Memang. Tapi mungkin itulah yang<br />
namanya sayang tak terlihat. Kalo dia gak sayang ma aku dan<br />
MAPFLOFA, tentu dia tidak akan memberi kunci2 tentang dunia kerja itu kepadaku.<br />
Aku beruntung dianggap sesama anak MAPFLOFA. jadi dia memberitahuku. Coba<br />
bukan, mungkin aku tak akan pernah diberitahu, karena aku tidak akrab<br />
dengannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="FI">Thanks a lot buat semua anak-anak MAPFLOFA yang<br />
selalu mensupport walaupun tidak terlihat, tapi aku merasa kehadiran<br />
kawan-kawan sudah mensupportku. Thanks a lot buat raka-raka alumni yang<br />
menghargai jerih payah kami untuk MAPFLOFA. Terima kasih Ya Allah, karena<br />
Engkau memberiku kesempatan untuk belajar banyak makna hidup di sini.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/aku-sangat-beruntung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SOS Melihat Gejala Bencana Alam</title>
		<link>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/sos-melihat-gejala-bencana-alam/</link>
		<comments>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/sos-melihat-gejala-bencana-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 17:13:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffbul</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/sos-melihat-gejala-bencana-alam/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: undefined"></span></strong><strong><span style="color: undefined">Dear all,</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Mudah-mudahan ini ada manfaatnya untuk<br />
pengetahuan dan kewaspadaan kita bersama. Karena kita hidup di alam maka<br />
seharusnyalah kita memelihara dan mengetahui aturan mainnya…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Terjadinya Tsunami tidak bisa kita cegah,<br />
namun paling tidak kita dapat mengantisipasi kedatangannya dengan mencermati<br />
gejala keanehan alam dan hewan, seperti berikut ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="color: undefined">1. Di Pantai</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="color: undefined">&nbsp;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Kita selalu terpesona melihat<br />
keindahan pantai, tapi cermatilah, dimana permukaan pantai yang lebih tinggi atau<br />
ada bukitnya. Tekstur pantai yang rata seperti di Pulau Phi-phi Thailand<br />
Selatan memang sangat membahayakan, berbeda dengan Pulau Sabang Aceh yang<br />
berbukit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0cm">Korban di Meulaboh dan Pantai Lhok Nga Aceh terbanyak<br />
diduga karena mereka turun ke tepi laut pada saat permukaan laut surut mendadak<br />
hingga beberapa kilometer karena &quot;panen ikan&quot;. Jika ditemukan hal<br />
tersebut, berlarilah secepatnya ke arah daratan yang tinggi, jangan pikirkan<br />
harta yang tertinggal, karena harta hilang bisa dicari lagi, namun nyawa hilang<br />
tidak kembali lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt;text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Hembusan angin yang sangat kencang<br />
tapi mendadak, disertai bau garam/air laut yang tajam menandakan sedang terjadi<br />
proses di tengah laut, berbagai kemungkinan penyebab; Tsunami/Taifun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt;text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Jika anda merasakan gempa di pantai,<br />
jangan tunggu apapun lagi, pergi secepatnya dari tempat itu. Beritahukan orang<br />
terdekat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt;text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Jika anda sedang berperahu di tengah<br />
laut, dan mendengar ada gempa di sekitarnya (biasanya orang menggunakan radio<br />
di perahu), maka jangan dekatkan perahu ke daratan, tetap di tengah laut, efek<br />
Tsunami dipermukaan laut jauh dari pantai hanya sekitar 0,3 - 1 meter saja.<br />
(National Geographic News, 27 Dec. 2004).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt;text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Menjauhlah dari tepi laut jika anda<br />
mendengar suara dentuman seperti meriam dari dasar laut atau mendengar suara drum<br />
band sangat banyak dengan irama yang sangat cepat. (National Geographic News,<br />
27 Dec. 2004).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt;text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="color: undefined">2. Di tengah Laut</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="color: undefined">&nbsp;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Hal yang terjadi di lautan adalah<br />
Badai/Taifun/Cyclone. Sebesar apa kapal pun dapat dipecahkannya, maka jalan<br />
terbaik adalah pantau terus radio, dan carilah pulau terdekat. Teluk relative<br />
lebih aman untuk melepas jangkar daripada di tepi laut terbuka. Putar haluan<br />
jika anda meilhat awan hitam di tepi khatulistiwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="color: undefined">3. Di Aliran Sungai</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="color: undefined">&nbsp;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Jika anda ditepi sungai yang sangat<br />
jernih, dan melihat bahwa pasir di dasar sungai bergerak sangat cepat ke arah<br />
hilir, maka menjauhlah dari tepi sungai dan carilah tempat yg tinggi,<br />
dipastikan bahwa sedang terjadi air bah di hulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Jika anda melihat awan hitam di arah<br />
hulu sungai, sebaiknya urungkan niat ke sungai tersebut, dan coba juga menjauh<br />
dari atas jembatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Anda mendengar suara riuh-rendah<br />
bagaikan dentuman, bantingan dari arah hulu sungai, menjauhlah dan beritahu<br />
setiap orang yang anda jumpai (Bohorok, Langkat, Sumatera Utara 2003)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="color: undefined">4. Di Hutan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Tidak ada Tsunami dan air bah di dalam<br />
hutan, lalu? Kebakaran adalah bencana dalam hutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Jika anda terkepung api di dalam<br />
hutan, maka carilah anak sungai (creek) dan masuklah ke dalamnya hingga<br />
kebakaran berakhir, jika anda keluar dari sungai, ingatlah suhu udara bisa<br />
lebih 1000 ‘C di permukaan tanah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Lebih baik anda berjalan di lahan yang<br />
telah terbakar daripada tanah yang belum terbakar karena permukaan tanah yang<br />
terbakar lebih kering dan kemungkinan terbakar lagi sangat kecil daripada tanah<br />
yang belum terbakar (FEMA Bulletin)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Di malam hari pada saat bulan tidak<br />
bersinar/bukan purnama, anda melihat kaki langit sangat terang, maka<br />
menjauhlah, pasti terjadi kebakaran toh di Indonesia tidak ada Aurora Australis<br />
dan Borealis yang fenomemal itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="color: undefined">5. Tingkah Laku Hewan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Pada saat menjelang datangnya Banjir<br />
Bandang Bahorok (Langkat, Sumatera Utara 2003) Orang-utan menunjukkan tingkah<br />
laku yang extreme, mereka sangat gelisah dan berteriak-teriak karena gejala ini<br />
tim jagawana melepaskan mereka sehingga mereka selamat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Pada saat terjadi gempa di Sumatera,<br />
Gajah-gajah di Phuket, Thailand Gelisah dan menjerit. Menjelang datangnya<br />
tsunami mereka melepaskan sendiri belenggu mereka dan menggiring turis dan<br />
pawang mereka ke tempat yg aman, ombak Tsunami berhenti hanya beberapa meter<br />
dari gajah2 itu berdiri. (TVRI, 03 Jan. &#8216;05 pkl 21.15 dan Kompas, 01 Jan. &#8216;05<br />
hal 1.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Burung berterbangan. Seorang perwira<br />
TNI-AD Kodam I- Iskandar Muda selamat dari Tsunami di Banda Aceh karena melihat<br />
burung berwarna putih sangat banyak terbang ke daratan dari laut, ia<br />
memerintahkan staffnya untuk memutar arah kembali padahal saat itu ia menuju<br />
pelabuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: undefined">Jika anda melihat ular, tikus, kecoa<br />
keluar secara tiba-tiba dari dalam got sangat banyaknya, maka segeralah<br />
waspada, sesuatu sedang terjadi di bawah tanah. Jika anda disekitar pegunungan<br />
dan melihat semua hewan berlari, maka segera juga ikuti mereka, jangan takut<br />
mereka memakan, menerkam/menggigit anda, karena naluri mereka saat itu hanya<br />
satu: <em>menyelamatkan diri</em>&#8230;..<br />
pertanda gunung akan meletus.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffbul.blog.friendster.com/2008/02/sos-melihat-gejala-bencana-alam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tragedi Sangkima</title>
		<link>http://riffbul.blog.friendster.com/2007/08/tragedi-sangkima/</link>
		<comments>http://riffbul.blog.friendster.com/2007/08/tragedi-sangkima/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Aug 2007 18:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffbul</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffbul.blog.friendster.com/2007/08/tragedi-sangkima/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://riffbul.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/dsc03644_1.JPG"><a href="http://mapflofa.cogia.net">riffbul</a> <img width="140" height="105" border="0" alt="Dsc03644_1" src="http://riffbul.blogs.friendster.com/carnivora_plant/images/dsc03644_1.JPG" style="margin: 0px 5px 5px 0px;float: left" /></a> </p>
<p>Kamis, 16 Agustus 2007</p>
<p>Pada hari itu saya berserta teman-teman dari Tim Elger Adventur Service Team berangkat menuju Taman Nasional Kutai Sangkima tuk mempersiapkan lokasi untuk acara Mountain end Jangel curs yang akan dilaksanakan di TNk, setibanya tim kami di lokasi tempat acara akan di laksanakan kami sungguh terkejut dengan kejadian yang terjadi di lokasi karna setau kami pada waktu survei awal pada awal juni tepatnya tgl 3 juni 2007 di loksi kerapatan vegetasi di tepi jalan poros antar kota maupun di dalamnya pepohonannya masih rapat dan rindang, berbeda terbalik saat kami tiba waktu itu.</p>
<p><a href="http://riffbul.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/dsc03647.JPG"><img width="100" height="75" border="0" alt="Dsc03647" src="http://riffbul.blogs.friendster.com/carnivora_plant/images/dsc03647.JPG" style="margin: 0px 5px 5px 0px;float: left" /></a><br />
Hilang sudah&nbsp; kemegahan Taman Nasional Kutai Sangkima yang pernah ada dimana tumbuh subur tegakan-tegakan Dipterocarpace menjulang tinggi hingga menembus awan serta kicawan burung-burung pagi juga nyayian satwa yang merdu, kini yang tertinggal hanyalah jeritan dari peghuni rimba Taman Nasional Kutai. akibat perambahan hutan besar-besaran oleh penduduk asli daerah itu dengan berdalihkan ingin menjaga tanah nenek adat mereka dari pada nantinya tanah adat nenek moyang mereka akan diambil oleh para pendatang. Sungguh ironis sekali hanya karana masalah tersebut para penghuni yang mungkin hidupnya lebih dulu dari pada orang-orang yang mengaku tanah moyangnya emang para penghuni TNK tak memiliki bukti seperti sertifikat tanah untuk membuktikan bahwa tanah itu adalah tanah mereka.Bisa jadi nantinya mereka akan menjadi dongeng pengantar tidur anak cucu kita yg tak sempat melihat mereka akibat keserakahan nenek moyangnya </p>
<p>hemm sunguh teragis memang nasib mereka yang terang-terangan di hadaoan mereka satu oersatu tumbang dan di buru oleh demi tuk mengisi kontong-kantong pribadi para tirani yang haus karana kekuasan maupun kekayaan yang sebenarnya taakan di bawa mati nantinya.</p>
<p>Hijau jauh memandang dari atas bukit terhampar bagaikan primadani, nyayian saywa bersaut-sautan menyambut fajar di kala pagi dan mengantar fajar dikala sore hari tuk menjemput sang rembulan di malamnya TNK.</p>
<p>Raungan mesin pembantai masal penghuni rimba tedengar jelas di telinga, sampaikapan hal ini baru akan di sadari oleh orang-orang tak bertanggung jawab sehingga membuat Satu persatu sahabat pergi dan takan kembali tungulah!!! bencana yang akan datang menggantikannya setelah bencana datang mungkin kita baru menyadarinya bahwa pentingnya kehadiran para penghubi rimba &quot; Tanya Kenapa????&quot;</p>
<p>Tunggu Apa Lagi Apakah kita mau menunggu bencana itu datang atau kah meu mencegahnya, belum ada kata terlambat sebelum hal itu terjadi dan rusak semuannya</p>
<p>Samarinda, 29 Agustus 2007<br />Salam Lestari !!!!!!!!!!!!!!!!<br />By : riffbul Mapflofa Fahutan Unmul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffbul.blog.friendster.com/2007/08/tragedi-sangkima/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>WIASATA ALAM KABUPATEN BULUNGAN</title>
		<link>http://riffbul.blog.friendster.com/2007/08/wiasata-alam-kabupaten-bulungan/</link>
		<comments>http://riffbul.blog.friendster.com/2007/08/wiasata-alam-kabupaten-bulungan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Aug 2007 17:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffbul</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffbul.blog.friendster.com/2007/08/wiasata-alam-kabupaten-bulungan/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong>Sungai Kayan</strong></p>
<p style="text-align: justify"><img width="200" hspace="6" height="111" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.jpg" alt="Sungai Kayan" />Sungai Kayan<br />
merupakan sungai arus deras, dengan grade1/2 atau tingkat kesulitan di atas<br />
rata-rata, sehingga berpotensi sebagai objek wisata arung jeram. Sungai ini<br />
melewati <u>+</u> 20 desa yang memiliki sub suku yang berbeda namun bahasanya<br />
sebagian besar sama.<br />
Aktifitas masyarakat di sepanjang sungai ini adalah berburu dan bertani<br />
(bercocok tanam).<br />
Mayoritas penduduknya adalah Dayak dan Bulungan, namun di setiap desa tinggal<br />
pula bermacam suku pendatang seperti Bugis, Banjar, Toraja, Jawa dan lain-lain.</p>
<p><strong>Air Terjun Long Pin</strong></p>
<p style="text-align: justify"><img width="168" hspace="6" height="110" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" alt="Air Terjun Long Pin" />Di lokasi<br />
ini Anda dapat menikmati pemandangan yang indah sambil berbenah diri dengan<br />
bermandikan air jernih karena di bagian hilir membentuk danau yang indah,<br />
dikelilingi bebatuan alami sehingga menambah keasrian alamnya.</p>
<p>&nbsp; <strong><span lang="SV">Gunung Rian</span></strong></p>
<p><img width="154" hspace="6" height="180" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" alt="Gunung Rian" /><span lang="SV">Beranjak dari Sungai Kayan, Anda akan merasakan<br />
udara segar dan alam perawan. Gunung Rian di Kecamatan Sesayap dihiasi air<br />
terjun yang mengalir sepanjang tahun. Kelebihannya adalah air terjun ini sangat<br />
tinggi <u>+</u> 90 m sampai ke puncaknya, terdiri dari beberapa umpakan. Setiap<br />
umpakan terdiri atas <u>+</u> 20m mendatar dan 20 m meninggi, kita pun bisa<br />
memanjatnya sampai ke puncak. Jika hendak meneruskan perjalanan, jangan lupa<br />
oleh-oleh khas Tidung Pale yaitu madu asli dan udang sungai yang berkualiatas<br />
ekspor sebagai tentengan Anda. </span></p>
<p><strong><span lang="IT">Sungai Giram</span></strong><span lang="IT"></span></p>
<p style="text-align: justify"><img width="256" hspace="6" height="110" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.jpg" alt="Sungai Giram" /><span lang="IT">Sungai Giram terletak di Kecamatan Peso. Tiba di<br />
sungai Giram inilah tempat yang pas bagi Anda yang tertarik dengan olahraga<br />
arung jeram. </span><span lang="SV">Sungai dengan<br />
panjang 2 km dan lebar 50 m siap menantang nyali Anda.</span></p>
<p><span lang="SV"> <strong>Sumber Air Panas<br />
Sajau</strong></span></p>
<p><img width="183" hspace="6" height="150" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.jpg" alt="Sumber Air Panas Sajau" /><img width="128" hspace="6" height="150" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.jpg" alt="umber Air Panas Sajau" /><span lang="SV">Air Panas yang ada di sini berasal dari<br />
panas bumi, dengan panasnya kita dapat merebus telur di dalamnya. Keindahan<br />
alamnya yang masih asri sangat tepat bagi Anda untuk melakukan petualangan alam<br />
bebas.</span></p>
<p><span lang="SV"> <strong>Gunung Putih</strong></span></p>
<p><img width="137" hspace="6" height="200" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image008.jpg" alt="Gunung Putih" /><span lang="SV">Disebut gunung putih karena gunung ini merupakan<br />
gunung kapur berwarna putih yang sangat indah dengan relief-relief yang alami<br />
bak pahatan seorang seniman. Selain menikmati pemandangannya yang mengagumkan<br />
kita dapat memanjat relief-relief itu sampai ke puncaknya atau kita dapat berjalan<br />
dengan anak tangga yang tersedia.<br />
Dari puncak kita bisa nikmati pemandangan alam yang eksotis, disini juga<br />
terdapat goa burung yang dipercaya merupakan tempat persembunyian Sulta<br />
Bulungan dari tentara Belanda. Anda juga dapat menikmati sajian kesenian daerah<br />
di rumah panggung di lokasi wisata gunung putih ini.</span></p>
<p><strong><span lang="SV">Air Terjun Idaman KM 18 </span></strong><span lang="SV"></span></p>
<p><img width="127" hspace="6" height="150" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image009.jpg" alt="Air Terjun KM 18" /><img width="127" hspace="6" height="150" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image010.jpg" alt="Air Terjun KM 18" /><span lang="SV">Air terjun dengan ketinggian 15 meter ini<br />
ditempuh selama kurang lebih 45 menit. Anda diajak berpetualang menjelajahi<br />
hutan.</span></p>
<p><span lang="SV"> </span></p>
<p><strong><span lang="SV">Air Hutan Gunung Seriang<br />
KM 2 </span></strong><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify"><img width="245" hspace="6" height="111" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image011.jpg" alt="KM 2" /><span lang="SV">Air hutan ini tidak sepanjang tahun mengalir deras<br />
ada kalanya berkurang di musim kemarau. Jika datang musim penghujan hutan ini<br />
dialiri air yang nampak indah menyegarkan. Kondisi hutan yang masih rapat<br />
merupakan daya tarik lain yang disuguhkan di sini. Untuk sampai ke lokasi ini<br />
juga sangat mudah, dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 15 menit saja.</span></p>
<p style="text-align: justify"><strong><span lang="SV">Pantai Tanah Kuning</span></strong></p>
<p><img width="250" hspace="6" height="124" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image012.jpg" alt="Pantai Tanah Kuning" /><span lang="SV">Pantai Tanah Kuning memiliki lebar <u>+</u><br />
75 m dengan panjang <u>+</u> 2 km, daerah wisata ini terletak di Tanah Kuning<br />
Mangkupadi di Kecamatan Tanjung Palas Timur.<br />
Pantai ini memberikan kenyamanan untuk berjemur atau sekedar bermain pasir<br />
bersama teman dan keluarga.</span></p>
<p><span lang="SV"> </span></p>
<p><strong><span lang="SV">Pulau Burung</span></strong><span lang="SV"></span></p>
<p><span lang="SV">Di Pulau Burung ini, dahulunya<br />
dihuni oleh berbagai macam spesies burung, saat ini hanya tinggal be</span><img width="300" hspace="6" height="127" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image013.jpg" alt="Pulau Burung" /><span lang="SV">berapa spesies saja namun Anda masih dapat<br />
menikmati panorama alamnya.</span></p>
<p><span lang="SV"> </span></p>
<p align="center" style="text-align: center"><strong><span lang="SV">Pantai Nibung</span></strong><span lang="SV"></span></p>
<p><img width="300" hspace="6" height="141" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image014.jpg" alt="Pantai Nibung" /><span lang="SV">Pantai Nibung dengan paduan hamparan pasir putih<br />
sepanjang 500 m dan lambaian nyiur kelapa mengundang kita untuk memanjakan diri<br />
lewat keindahan panoramanya.</span></p>
<p><span lang="SV"> </span></p>
<p align="center" style="text-align: center"><strong><span lang="SV">Pantai Bahari Karang Tigau</span></strong><span lang="SV"></span></p>
<p><img width="258" hspace="6" height="121" src="/DOCUME~1/MAPFLO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image015.jpg" alt="Pantai Karang Tigau" /><span lang="SV">Pantai ini terletak di Desa Tanah Kuning,<br />
memiliki hamparan pasir putih dan gelombang laut dan gelombang laut yang tidak<br />
begitu besar sehingga sangat cocok untuk memancing ataupun berolahraga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">&nbsp;</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffbul.blog.friendster.com/2007/08/wiasata-alam-kabupaten-bulungan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>carnivora plant</title>
		<link>http://riffbul.blog.friendster.com/2007/06/carnivora-plant/</link>
		<comments>http://riffbul.blog.friendster.com/2007/06/carnivora-plant/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 15:21:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffbul</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Science]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffbul.blog.friendster.com/2007/06/carnivora-plant/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><span lang="EN-GB"><img width="577" height="106" alt="CARNIVORA PLANT" src="/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" /></span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="EN-GB">This my project</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="EN-GB"><a href="http://riffbul.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/p3110194_1.JPG"><img width="100" height="133" border="0" src="http://riffbul.blogs.friendster.com/carnivora_plant/images/p3110194_1.JPG" alt="P3110194_1" style="margin: 0px 5px 5px 0px;float: left" /></a><br />
Ingin<br />
membasmi semut, lalat, dan kecoak di rumah? Pelihara saja kantong semar.<br />
Tanaman pemangsa serangga ini agaknya menjadi cara alami yang ampuh membasmi<br />
semua serangga pengganggu, sekaligus mempercantik rumah dengan penampilannya<br />
yang unik.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="EN-GB">Kantong semar<br />
atau nama latinnya <strong><em>Nepenthes spp</em></strong> sudah dikenal sejak awal abad ke-18. </span><span lang="SV">Tanaman ini unik karena memiliki kantong<br />
yang tergantung di ujung daun. Kantong ini berfungsi menangkap hewan, terutama<br />
serangga, yang akan dijadikan nutrisi untuk tanaman. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="SV">Nepenthes merupakan satu-satunya genus<br />
dalam family <em>Nepenthaceae </em>dan sangat<br />
unik karena berbeda dengan tanaman hias yang sering dijadikan koleksi. Tanaman<br />
yang termasuk dalam golongan carnivorous plant (tumbuhan pemangsa) ini bersama<br />
amorphophallus, rafflesia, dan lainnya dikategorikan sebagai tanaman hias unik.<br />
<em></em></span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="SV">Kantong semar tergolong ke dalam tumbuhan liana<br />
(merambat), berumah dua, serta bunga jantan dan betina terpisah pada individu<br />
yang berbeda. Tumbuhan ini hidup di tanah, ada juga yang menempel pada batang<br />
atau ranting pohon lain sebagai epifit. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="SV">Keunikan dari tumbuhan ini adalah bentuk, ukuran,<br />
dan corak warna kantongnya. Sebenarnya kantong yang berbentuk seperti periuk<br />
tersebut adalah ujung daun yang berubah bentuk dan fungsinya menjadi perangkap<br />
serangga atau binatang kecil lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="SV">Tumbuhan Kantong Semar atau nama latinnya <em>Nepenthes</em> <em>Sp,</em> merupakan<br />
tumbuhan yang unik karena mempunyai kantong yang berbentuk seperti periuk di<br />
ujung urat daunnya, <span style="color: black">beberapa <em>Nepenthes sp</em>. memiliki kantong dengan sayap yang pada sisi-sisinya<br />
ada rambut menyerupai tangga. Di dalam kantong terdapat cairan yang berfungsi<br />
seperti cairan lambung manusia. Cairan itu bersifat asam dengan pH 2,8-4,9,<br />
yang memungkinkan tubuh serangga rusak. Untuk dapat diambil zat gizinya, komponen<br />
tubuh serangga perlu dihancurkan sampai molekul penyusunnya. Tugas ini<br />
dilakukan oleh berbagai enzim&#8211;protein yang mengkatalis reaksi kimia. Contohnya<br />
enzim kitinase yang mengurai cangkang serangga. Yang lebih dominan dan banyak<br />
jumlahnya adalah enzim protease, yang mengurai protein dari tubuh serangga. Enzim<br />
ini populer dengan nama nepenthesin (paduan kata &quot;Nepenthes&quot; dan<br />
&quot;protein&quot;).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="SV" style="color: black">Kantong semar mempunyai kemampuan unik lain, yaitu dapat<br />
membentuk kantong yang berbeda dari tumbuhan yang sama. </span><span style="color: black">Kantong yang menggantung dan berada di atas tanah disebut<br />
kantong atas, sementara kantong yang berada di atas tanah disebut kantong<br />
bawah. Fenomena dimorfisme ini tampak jelas pada tumbuhan kantong semar<br />
Nepenthes gymnamphora yang penulis amati di Taman Nasional Gunung Halimun, Jawa<br />
Barat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: black"><a href="http://riffbul.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/nepenthes2520ampullaria2520typ2520spotte.jpg"><img width="100" height="100" border="0" src="http://riffbul.blogs.friendster.com/carnivora_plant/images/nepenthes2520ampullaria2520typ2520spotte.jpg" alt="Nepenthes2520ampullaria2520typ2520spotte" style="margin: 0px 5px 5px 0px;float: left" /></a></p>
<p>Kantong<br />
atas berwarna hijau karena kandungan klorofil memungkinkannya melakukan<br />
fotosintesis seperti daun, sementara kantong bawah yang terlindung dari sinar<br />
matahari berwarna merah menyala. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Serangga<br />
terbang yang menjadi mangsa kantong atas tidak terlalu membutuhkan rangsangan<br />
warna, sementara semut yang menjadi &quot;santapan&quot; kantong bawah perlu<br />
dipikat dengan warna yang mencolok.</span></p>
<p style="text-align: justify">Di seluruh dunia Nepenthes tumbuh dan tersebar<br />
mulai dari
<p>Australia</p>
<p> bagian<br />
utara, Asia Tenggara, hingga
<p>China</p>
<p>bagian selatan. <span lang="EN-GB">Di dunia telah ditemukan 82 jenis<br />
nepenthes, dan 64 jenis di antaranya ditemukan di
<p>Indonesia</p>
<p>. Borneo (Kalimantan,<br />
Serawak, Sabah, dan
<p>Brunei</p>
<p>)<br />
merupakan pusat penyebaran nepenthes terbesar di dunia karena dari
<p>sana</p>
<p> ditemukan 32 jenis.<br />
Dari Sumatera ditemukan 29 jenis. Hasil penelusuran spesimen herbarium di<br />
Herbarium Bogoriense, Bogor, ditemukan bahwa di Sulawesi minimum mempunyai 10<br />
jenis, Papua mempunyai 9 jenis, Maluku 4 jenis, dan Jawa hanya ditemukan 2<br />
jenis.</span></p>
<p style="text-align: justify"><em><span lang="EN-GB">Nepenthes</span></em><span lang="EN-GB"> <em>Sp </em>adalah jenis tumbuhan<br />
karnivora yang menjebak dan memakan mangsanya seperti serangga yang tertarik<br />
dengan kelenjar nectar pada bagian tutup kantong dan pada bagian bibir kantong<br />
yang menjadi makanan semut, pada bagian bibir kantong berlapis lilin &nbsp;yang licin sehingga serangga- serangga mudah<br />
tergelincir kedalam kantong yang beisis cairan nectar tersebut, Umumnya<br />
nepenthes hidup di tempat-tempat terbuka atau agak terlindung di habitat yang<br />
miskin unsur hara dan memiliki kelembaban udara cukup tinggi. Nepenthes bisa<br />
hidup di hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut,<br />
hutan kerangas, gunung kapur, dan
<p>padang</p>
<p>savana. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="EN-GB">Berdasarkan ketinggian tempat tumbuhnya, nepenthes dibagi menjadi<br />
tiga kelompok, yaitu :</span></p>
<p style="margin-left: 36pt;text-align: justify"><span lang="EN-GB">1.<span>&nbsp;</span></span><span lang="EN-GB">nepenthes dataran rendah</span></p>
<p style="margin-left: 36pt;text-align: justify"><span lang="EN-GB">2.<span>&nbsp;</span></span><span lang="EN-GB">nepenthes dataran menengah</span></p>
<p style="margin-left: 36pt;text-align: justify"><span lang="EN-GB">3.<span>&nbsp;</span></span><span lang="EN-GB">nepenthes dataran tinggi</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="EN-GB">Pemahaman akan kelompok ini sangat penting dalam memelihara<br />
nepenthes karena nepenthes dataran rendah tidak akan bisa hidup bila ditanam di<br />
dataran tinggi. Begitu juga sebaliknya. Namun kadang, baik pemelihara maupun<br />
penjual sering kali tidak mengenali jenis nepenthes sehingga nepenthes-nya mati<br />
setelah tidak lama dipelihara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: rgb(51, 51, 51)">Kutu putih merupakan salah satu
<p>hama</p>
<p> yang paling sering menyerang nepenthes<br />
atau kantong semar. Meski kecil,
<p>hama</p>
<p>ini sangat mudah dikenali. Hal itu dikarenakan bentuknya yang oval, memiliki<br />
serbuk putih dan ditumbuhi bulu halus putih di tubuhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: rgb(51, 51, 51)">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span lang="IT" style="font-size: 14pt;color: rgb(51, 51, 51)">Ancaman Buat Si Cantik Kantong Semar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: rgb(51, 51, 51)">Kutu putih<br />
ini cukup berbahaya, karena ia menghisap cairan yang terdapat dalam tanaman<br />
nepenthes sehingga bisa menyebabkan layu dan perubahan pada batang.
<p>Hama</p>
<p> ini sering<br />
bersembunyi di batang, ketiak dan permukaan bawah daun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="color: rgb(51, 51, 51)">Untuk<br />
mencegahnya, taruhlah tanaman nepenthes di tempat yang pencahayaan dan<br />
sirkulasi udaranya baik. Namun, jika sudah terserang, semprotkan 2 cc<br />
insektisida sistemik yang dicampur dengan satu liter air pada bagian yang<br />
terkena
<p>hama</p>
<p>.<br />
Insektisida sistemik ini bisa berupa Monitor 200 LC, Applaud 10 WP, Mitac 200<br />
EC atau Pegasus 500 EC. </span></p>
<p style="text-align: justify"><strong><u><span lang="EN-GB" style="font-size: 14pt">Tanaman dengan Seribu Nama</span></u></strong><span lang="EN-GB" style="font-size: 14pt"> </span></p>
<p style="margin-left: 9.35pt;text-align: justify"><span lang="EN-GB">1. Tanaman kantong semar dalam bahasa Latin disebut<br />
Nepenthes. Nama ini diambil dari sebuah nama gelas anggur. </span></p>
<p style="margin-left: 9.35pt;text-align: justify"><span lang="EN-GB">2. Mungkin karena bentuknya seperti perut semar (tokoh<br />
dalam pewayangan) yang buncit, di Indonesia nepenthes disebut kantong semar. </span></p>
<p style="margin-left: 9.35pt;text-align: justify"><span lang="PT-BR">3. Di beberapa daerah,<br />
nepenthes memiliki beberapa nama. Riau menyebut kantong semar sebagai periuk<br />
monyet. Di Jambi disebut kantong beruk, di Bangka disebut ketakung, dan di Jawa<br />
Barat dikenal dengan sorok raja mantri. </span></p>
<p style="margin-left: 9.35pt;text-align: justify"><span lang="PT-BR">4. Di Kalimantan, setiap<br />
suku memiliki istilah sendiri untuk menyebut nepenthes. Misalnya Suku Dayak<br />
Katingan yang berada di Kalimantan Tengah menyebutnya sebagai ketupat napu.<br />
Napu artinya rawa. Dulu kantong tumbuhan yang hidupnya di rawa ini sering<br />
dijadikan ketupat. Di Sumatera Barat kantong tanaman ini (terutama Nepenthes<br />
ampullaria) juga sering dipakai untuk membuat kue godah. Kue ini terbuat dari<br />
campuran tepung beras, gula, dan santan yang kemudian dikukus. </span></p>
<p style="margin-left: 9.35pt;text-align: justify"><span lang="PT-BR">5. Suku Dayak Bakumpai<br />
di Sungai Barito menyebutnya telep ujung. Ujung adalah nama seorang raja,<br />
sedangkan telep adalah nama sebuah alat dari bambu yang berbentuk silinder.<br />
Alat ini biasanya dipakai untuk menyimpan racun anak panah. </span></p>
<p><span lang="PT-BR">6. Suku Dayak Tunjung (Kalimantan Timur)<br />
menyebutnya selo bengongong, yang artinya sarang serangga. </span><span>(ARN/M Clara Wresti) </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffbul.blog.friendster.com/2007/06/carnivora-plant/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
