Selamatkan Bumi, Hanya Celoteh Belaka
April 22, 2008
Hari ini, 38 tahun lalu, senator dari negara bagian Wisconsin, Gaylord
Nelson, bersama jutaan orang dari semua negara bagian Amerika Serikat
melakukan demo untuk usaha pelestarian udara, air bersih, dan alam.
Tidak kurang dari 1.500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah ikut ambil
bagian dalam aksi yang hingga kini diperingati sebagai Hari Bumi.
Delapan tahun sebelumnya, tahun 1962, dari Springdale, Pennsylvania,
Rachel Carson menyentakkan warga dunia dengan menerbitkan Silent
Spring. Dan selanjutnya, hingga hari ini warga dunia terus berceloteh
untuk menyelamatkan Bumi.
Perjalanan dimulai tahun 1962, saat Carson mengisahkan bagaimana alam
pada musim semi yang semula cerah ceria penuh suara burung berkicau dan
warna-warna bunga yang sedang mekar tiba-tiba sunyi karena semua itu
hilang seketika. Kesadaran baru yang dibawa Silent Spring membuka mata
tidak hanya bagi warga Amerika Serikat, tetapi juga warga dunia, yang
ditandai usulan Swedia untuk menyelenggarakan konferensi tingkat dunia.
Usulan itu disetujui dan akhirnya diselenggarakan konferensi tingkat
tinggi di Stockholm tahun 1972.
Penyelamatan lingkungan
Sejak konferensi itu, badan-badan dunia baru dibentuk untuk tujuan
penyelamatan lingkungan, salah satunya adalah Komisi Brundtland. Salah
satu hasilnya adalah laporan berjudul Our Common Future. Dalam laporan
itu, istilah pembangunan berkelanjutan diperkenalkan dan didefinisikan.
Selain laporan itu, Komisi Brundtland mengusulkan untuk melaksanakan
konferensi tingkat dunia untuk membicarakan berbagai lingkungan global,
yang kemudian diselenggarakan di Rio de Janeiro, 1992.
Konferensi di Rio adalah rangkaian kompromi yang sulit, begitu menurut
Boutros Boutros- Ghali, Sekretaris Jenderal PBB saat itu. Pertemuan itu
menghasilkan berbagai kesepakatan, salah satunya adalah Forestry
Principles (prinsip-prinsip tentang hutan). Forestry Principles adalah
kesepakatan khusus terkait kehutanan, yang menunjukkan bahwa hutan
memiliki posisi penting bagi masa depan umat manusia.
Perjalanan penting selanjutnya terjadi akhir 2007 di Bali. Pertemuan
selama dua minggu itu, menurut banyak pihak, adalah pertemuan untuk
melunakkan hati Amerika Serikat. Hasil terbesar dari Bali adalah Bali
Road Map. Selain itu, yang kini sedang menjadi isu hangat adalah Reduce
Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD), sebuah
mekanisme pembiayaan dari negara industri untuk negara pemilik hutan.
REDD merupakan salah satu bentuk perdagangan karbon.
Meski demikian, jika merujuk pada berbagai kesepakatan sebelumnya, Bali
Road Map dan REDD menurut beberapa pihak adalah sebuah kemunduran.
Pendapat lain menyatakan, mekanisme REDD lebih baik dari Clean
Development Mechanism (CDM), setidaknya untuk Indonesia. Namun, apakah
hal itu juga lebih baik dalam konteks penyelamatan Bumi?
Pro-kontra REDD
REDD sebenarnya bukan hal baru yang tiba-tiba muncul di Bali. Beberapa
tahun sebelumnya di Montreal, pada saat COP 11, salah satu keputusannya
adalah tentang perlunya pembahasan insentif bagi Reduced Emission from
Deforestation in Developing Country (atau disingkat RED), degradasi
hutan belum dimasukkan. RED merupakan inisiatif Papua Niugini dan Kosta
Rika yang mengusulkan perlu adanya insentif bagi negara yang melakukan
konservasi, dan Brasil mengusulkan perlunya kompensasi bagi negara yang
mampu mencegah deforestasi. Di Bali, Indonesia mengharapkan RED menjadi
REDD, di mana degradasi hutan juga dimasukkan.
Sejak ide itu keluar, pro dan kontra terus mewarnai media massa, bahkan
hingga mekanisme REDD sedang akan diujicobakan, perdebatan terus
terjadi. Di kampus Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, REDD
memicu perseteruan antaralumni dan beberapa dosen.
Pemerintah mengatakan, REDD memberi kesempatan kepada negara untuk
mendapatkan keuntungan finansial dari potensi hutan tanpa menebang
hutan. Lembaga konservasi internasional menyambut peluang itu sebagai
tambahan dana untuk kegiatan konservasi di tiap-tiap wilayah kerja
mereka. Beberapa pihak lain melihat ini sebagai sebuah bentuk baru
penguasaan pemilik kapital untuk menguasai dan mengawasi hutan di
negara berkembang.
Mekanisme REDD yang ditawarkan Indonesia dalam persidangan konferensi
PBB mengenai perubahan iklim di Bali berpotensi membangkrutkan bangsa
jika diterapkan di tengah lemahnya penegakan hukum dan kejahatan
lingkungan (Kompas, 4/12/2007).
Beberapa pihak yang pesimistis dengan mekanisme REDD menyatakan
kekhawatirannya, REDD hanya akan memberikan manfaat kepada lembaga
keuangan yang mengelola dana itu dan pihak ketiga, yang dalam hal ini
bisa lembaga konservasi, konsultan, atau lembaga penelitian. Sementara
masyarakat sekitar hutan belum tentu mendapatkan manfaat langsung.
Selain itu, kita harus berhati-hati agar jangan sampai mekanisme REDD
menjadi beban utang baru, seperti kekhawatiran yang disampaikan Emmy
Hafid, Direktur Eksekutif Green Peace Asia Tenggara. "Hati-hati dengan
REDD karena jika kita ternyata mampu melestarikan hutan sebagai
penangkap karbon, uang yang sudah didapat akan langsung dikonversi
menjadi utang."
Gagasan untuk mencegah kerusakan hutan atau deforestasi dengan memberi
kredit bagi pihak-pihak yang bisa melestarikan hutan dikhawatirkan
menjadi semacam ijon bagi pelestari hutan (Kompas, 14/12/2007).
Pembaruan komitmen
Mengingat perjalanan yang begitu panjang, dan agar semua itu tidak
hanya menjadi celoteh belaka, perayaan hari ini seharusnya bukan hanya
melestarikan tradisi, tetapi pembaruan komitmen. Seperti pernah
diucapkan Presiden Palau Tommy E Remengesau, ".Jika ingin merespons
perubahan iklim, gaya hidup harus berubah."
Siapkah kita untuk mengubah gaya hidup. Siapkah kita untuk memaknai a
call for climate dalam kehidupan sehari-hari? Siapkah kita untuk
mengurangi pemakaian tisu? Siapkah kita untuk mengurangi pemakaian AC?
Siapkah kita mematikan lampu ketika penerangan tak diperlukan? Siapkah
kita mematikan televisi saat tak seorang pun menonton? Siapkah kita
untuk lebih mengonsumsi buah lokal daripada buah impor? Siapkah kita
untuk semua itu?
Jika kita belum siap, benar adanya bahwa sejak beberapa tahun lalu kita hanya berceloteh untuk menyelamatkan Bumi.